admin

admin

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ahmad Khotim Muzakka

Dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah,

UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan 

Dalam kata pengantarnya untuk Ilusi Negara Islam (2009), KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah memberikan penjelasan tentang eksistensi beberapa organisasi masyarakat yang tidak sejalan dengan para tokoh nasionalis-religius dalam mempertahankan bangunan kebangsaan NKRI. Bagi Gus Dur, orang-orang yang mampu menerima perbedaan kemajemukan adalah pribadi-pribadi yang terus berupaya berkontribusi pada kemanfaatan publik, yang disebut masuk dalam kategori jiwa-jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah).

Gus Dur adalah Password

Mukh. Imron Ali Mahmudi

(Peneliti Diaspora, Alumni Universitas Indonesia, Awarde LPDP S3 Luar Negeri) 

Akhir tahun lalu, saya melakukan penelitian lapangan di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Lasem adalah kota yang multikultural, terdiri dari komunitas masyarakat Tionghoa, Jawa, dan Santri dengan agama yang berbeda pula, yakni Islam, Konghucu, Kristen, Katholik, dan Buddha. Keragaman latar belakang itu membuat saya harus menyesuaikan diri ketika melakukan interaksi dengan masyarakat Lasem. Menariknya, proses penyesuaian itu berjalan mulus selama penelitian dengan 1 password penting, yaitu "Gus Dur".

 

 Muhammad Jauhari Sofi

(Dosen Komunikasi Lintas Budaya UIN K.H. Abdurrahman Wahid)

Abdurrahman Wahid (selanjutnya disebut Gus Dur) adalah sosok yang kompleks. Gus Dur lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren. Kakeknya adalah seorang pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi sosial-keagamaan terbesar di Asia. Ayahnya adalah salah seorang founding father di Republik Indonesia dan sekaligus menjabat sebagai menteri agama pertama. Silsilah Gus Dur terhubung hingga ke raja-raja Jawa di masa lalu. Masa remajanya banyak dihabiskan di lingkungan pesantren guna mempelajari literatur klasik keislaman. Di banyak ceramahnya, Gus Dur sering kedapatan menyitir pandangan para ulama klasik dan syair-syair dari kitab kuning, sebagaimana biasa dilakukan oleh orang-orang pesantren.

 

Muhammad Autad An Nasher

(Redaktur Pelaksana Alif.id)

Kurang lebih selama 3 tahun (2016-2019) penulis bekerja di Seknas Jaringan GUSDURian Indonesia. Dari satu rapat ke rapat lainnya, kami selalu membincangkan warisan (legacy)—nilai, pemikiran, dan perjuangan—yang telah ditinggalkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pembagian tugas oleh putri-putrinya, sahabat, serta muridnya. Mereka berkolaborasi satu sama lain untuk nyengkuyung warisan yang telah ditinggalkannya.

                 
UIN K.H. Abdurrahman Wahid
Kampus 1: Jl. Kusuma Bangsa No.9 Kota Pekalongan 51141
Kampus 2: Jl. Pahlawan Km.5 Rowolaku Kajen Kab. Pekalongan 51161
Telp: +62 (285) 412575
Fax : +62 (285) 423418
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…